Cerita Hanacaraka | Cerita Ajisaka | Cerita Dora Sembada

 Source image

    Aksara Jawa merupakan hasil budaya yang usianya berabad-abad. Aksara Jawa tidak terjadi atau hadir begitu saja. Kelahiran aksara Jawa secara umum dapat dijelaskan dari dua pandangan, yaitu dari segi tradisional (dari cerita Aji Saka) dan dari segi ilmiah. Dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai lahirnya aksara Jawa (Hanacaraka/Dentawyanjana/Carakan) dari segi tradisional yaitu cerita Aji Saka dan kedua abdinya.

        Dari serat Aji Saka, diceritakan kelahiran aksara Jawa yang dikutip oleh Kraf (Riyadi 1996: 9) diceritakan 2 abdi Aji Saka yang bernama Sembada dan Dora diutus oleh Ajisaka untuk menjaga keris dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain kecuali kepada Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Setibanya di Medangkamulan, Aji Saka bertahta di negeri itu. Medangkamulan kemudian menjadi sangat termasyhur hingga sampai terdengar oleh Dora. Mendengar kabar tersebut Dora pergi tanpa sepengetahuan Sembada menuju Medangkamulan. Sesampainya di hadapan Aji Saka kemudian Dora diutus untuk menjemput Sembada, dan jika Sembada tidak mau, barang-barang yang dijaga agar ikut dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada tidak mau meninggalkan barang yang dijaga dan tidak percaya jika yang mengutus adalah Ajisaka sendiri. Hingga akhirnya terjadilah pertengkaran antara keduanya. Mereka saling bersikukuh untuk menjalankan perintah dari tuannya, hingga mereka mati bersama karena kesaktian mereka seimbang. Ketika mendapatkan laporan kematian kedua abdinya Aji Saka menyadari kekhilafannya.

        Oleh karena itulah ia menciptakan sastra 20 yang dalam Manikmaya disebut Sastra Sarimbagan. Sastra Sarimbagan itu dibuat untuk mengenang atau memberi panghormatan kepada kedua abdinya itu, yang sekarang dikenal dengan aksara Jawa Hanacaraka.

Posting Komentar

0 Komentar