Tari Penthul Melikan Ngawi

 Source image

Tari Penthul Melikan merupakan kesenian tradisional kerakyatan di Dusun Melikan Desa Tempuran Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Soedarsono (1978: 20–21) menjelaskan bahwa kesenian tradisional kerakyatan adalah bentuk kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat biasa atau disebut dengan kesenian rakyat. Tari-tarian tradisonal kerakyatan pada umumnya sangat sederhana dan kurang begitu mengindahkan norma-norma keindahan dan bentuk-bentuk yang berstandar. Tidak seperti tari klasik yang ada di keraton. Gerakan tarinya sangat sederhana dan lebih mementingkan keyakinan yang terletak di balik tarian tersebut.


Tari Penthul Melikan digarap atau diciptakan pada tahun 1952 oleh Bapak Munajah di Desa Melikan, Kelurahan Tempuran, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Diciptakan untuk menghibur masyarakat setelah membangun sekolah desa itu. Perkembangan selanjutnya pementasan diadakan untuk  memperingati hari-hari besar nasional dan hari besar Islam oleh penduduk setempat. Tarian ini ditarikan dengan memakai topeng kayu yang melambangkan watak manusia yang berbeda-beda namun tetap bersatu dalam kerja. Topeng ini dipengaruhi jaman Kerajaan Kediri dan masa kini. Iringan gamelan sedikit mendapat pengaruh Reog Ponorogo.


Gerak dalam Tari Penthul Melikan merupakan gerak tari maknawi dan gerak non representatif karena hanya berupa simbolik yang memiliki arti. Tari Penthul Melikan merupakan tari yang digolongkan sebagai tari kelompok yang terdiri lebih dari 2 orang penari. Tari Penthul Melikan hanya dilakukan oleh penari dengan jenis kelamin Laki-Laki. Penari pada Tari Penthul Melikan tidak menggunakan tata rias wajah karena mengenakan properti topeng. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Penthul Melikan adalah: jedor, kendang besar, bonang, peluit dan kecer. Selain itu juga terdapat vocal sebagai pendukung tari. 


Busana yang digunakan dalam pertunjukan Tari Penthul Melikan yaitu :

1. Pakaian panjang warna hitam.

2. Celana panjang hitam

3. Udeng-udeng

Posting Komentar

0 Komentar