Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal
yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa
Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus,
cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu
kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam
laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi,
warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk
sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Seni gamelan Jawa mengandung nilai-nilai historis dan filosofis bagi bangsa
Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan Jawa merupakan salah satu seni
budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak
digemari serta ditekuni. Masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah
mengenal berbagai keahlian, di antaranya adalah wayang dan gamelan (Harsono
Kodrat, 1982). Menurut sejarahnya, gamelan Jawa juga mempunyai sejarah yang
panjang. Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa dalam
perkembangannya juga mengalami perubahanperubahan. Perubahan terjadi pada cara
pembuatannya, sedangkan perkembangannya menyangkut kualitasnya. Dahulu
pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini
siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa
yang termasuk dalam kategori pusaka (Irwan Sudjono, 1990). Secara filosofis
gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa
berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat
dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa kuno. Arti kata gamelan, sampai sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan dari kata gembel. Gembel adalah alat untuk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul. Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang sering digembel namanya gembelan. Kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan. Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul-pukul (Ki Hajar Dewantara, 1953).
Musik-musik etnis di Indonesia 90% jenis musik perkusif, artinya untuk memainkannya
dipergunakan alat pukul. Gamelan-gamelan kuna yang masih ada, seperti GamelanMegamendung (dari Kanoman Cirebon), Kyai Guntur Laut (dari Majapahit), dan
Gamelan Sekaten jumlah unitnya masih sedikit. Manusia memang selalu tidak puas
kepada apa yang sudah ada. Kita selalu ingin mengembangkan apa yang sudah ada.
Alat musik etnis ritualis menjadi alat musik religius, kemudian menjadi musik
sarana, yaitu gamelan untuk dakwah, untuk sarana pendidikan, untuk media
penerangan. Pada jaman gamelan sebagai sarana ini jumlah unitnya selalu mengalami
penambahan, antara lain ditambah macammacam kendang, macam-macam alat musik
petik, macam-macam alat musik gesek, bahkan tambur, terbang, jedor, bedug dan
lain-lain masuk ke dalam anggota musik gamelan. Anak muda sekarang ada yang
ingin mengembangkan unit gamelan dengan cara gong dibalik diisi kerikil dan
dibunyikan dengan memukul bahunya, kempul diberi kerikil di dalamnya, bonang
dipukul-pukul dengan pemukul tambur pada badannya, dan lain-lain (Kodiron,
1989).
Pradangga Adi Guna Sarana Bina Bangsa. Arti kata motto tersebut adalah Pradangga
sama dengan gamelan (prada + angga) artinya “yang punya badan mengkilat”, Adi
artinya baik, Guna artinya kepandaian, ilmu pengetahuan atau manfaat, Sarana
artinya alat, Bina artinya membangun, membimbing atau mendidik, sedangkan
Bangsa adalah orang-orang yang bertempat tinggal di suatu tempat yang mempunyai
kedaulatan sendiri dan berpemerintahan sendiri. Arti kata secara bebas “Apabila
gamelan itu digunakan dengan sebaik-baiknya bisa sebagai alat untuk mendidik
bangsa”. Adalah suatu kenyataan bila kita mendengar uyon-uyon rasanya seperti
kita dibawa ke alam impian yang serba nikmat.

0 Komentar